Tanggal 9 febuari 2014 di sepanjang jalan di sekitar jembatan gantung desa Duwet di Minggir, Sleman dan Bligo, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta terlihat suasana yang tidak biasa karena digelar even festival 1000 durian Kalibawang. Pagi itu terlihat beberapa petani durian menuju lokasi festival dengan membawa durian berjumlah puluhan yang ditaruh di kanan-kiri sepeda motor mereka. Sementara itu calon pembeli durian mulai berdatangan. Desa yang biasanya lengang kini nampak sibuk.
Jembatan gantung desa Duwet
Untuk menuju lokasi festival 1000 durian dapat dicapai dengan menuju jalan Godean kemudian sampai perempatan Moyudan , ambil jalan ke kanan , ikuti jalan ini terus ketika bertemu perempatan tetap lanjutkan perjalanan sampai pada pertigaan kemudian belok kiri, ikuti jalan ini . Jalan ini berada di pinggir selokan Mataram. Nah, diujung jalan telah terlihat jembatan gantung. Itulah jembatan gantung Duwet, tempat festival durian diselenggarakan.
Kulon Progo terkenal akan komoditi buah durian. Jika melintas di jalan alternatif Wates - Muntilan di sepanjang jalan mulai dari perempatan Nanggulan sampai pertigaan pasar Jagalan terlihat penjual durian . Pemandangan ini terlihat saat panen buah durian yaitu pada bulan januari hingga maret.
Menurut jadwal dari panitya, festival ini akan dibuka tepat jam 9, akan tetapi pada kenyataannya sebelum jam tersebut transaksi durian telang berlangsung. Pembeli telah memilih durian dan membayar , bisa jadi karena pembeli telah menemukan durian yang sreg atau mereka khawatir mendapatkan durian yang tidak sesuai jika tidak langsung dibeli.
Harga telah ditentukan oleh penjual. Range harga antara 20 ribu rupiah untuk durian berukuran kecil dan 70 ribu rupiah untuk durian berukuran besar. Dan itu adalah harga mati alias tidak ada penawaran. Bagi calon pembeli yang tau betul harga durian dan tau dimana membeli durian murah akan mundur. Akan tetapi bagi penikmat durian yang tidak sabar untuk melahap durian akan pantang mundur.
Semakin siang, di sepanjang jembatan gantung desa Duwet semakin ramai . Penjual durian menambah stok durian untuk jualan mereka demikian juga dengan pembeli. Ternyata penjualpun meluber sampai luar area festival, tepatnya di halaman rumah penduduk . Pembeli nampak asiik menawar durian dan menikmatinya di tempat.
Menjual durian di depan rumah penduduk
Nah, jika pas berada di Yogyakarta saat musim durian tiba, silakan mampir di sekitar Kalibawang, Kulon Progo untuk menikmati pesta durian menoreh.
Translate
Kamis, 13 Februari 2014
Selasa, 28 Januari 2014
Candi Sojiwan
Candi Sojiwan,candi dengan relief fabel yang menarik http://sheisjavanesse.blogspot.com/2014/01/candi-sojiwancandi-dengan-relief-fabel.html
Minggu, 26 Januari 2014
Candi Sojiwan,candi dengan relief fabel yang menarik
Tidak jauh dari candi Prambanan yang kesohor itu juga tidak jauh candi Plaosan serta candi Ratu Boko, terdapat candi Sojiwan yang menarik untuk dieksplor.
Candi Sojiwan berada di desa Kebon dalem kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Tepatnya, jika dari Yogyakarta pada pertigaan Prambanan di jalan Solo km 16 belok kanan kemudian ikuti jalan sampai melewati lintasan rel kereta. Nah, setelah toko keramik terdapat jalan beraspal ke kiri, ikuti jalan ini kemudian belok kanan di pertigaan berikutnya. Candi Sojiwan terletak tidak jauh dari pertigaan ini.
Posisi candi yang berdekatan dengan pemukiman penduduk serta dikelilingi di ladang jagung ini , tidak memungut tiket masuk alias gratis. Cukup menulis mengisi buku tamu yang disediakan petugas keamanan. Dan juga tidak ada pungutan yang harus dibayar untuk keperluan foto untuk prewedding.
Candi Sojiwan merupakan candi Budha. Sebuah stupa berdiri di halaman candi. Candi ini dibangun antara tahun 842 dan 850 masehi oleh Raja Balitung sebagai penghormatan kepada neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beraagama Budha.
Candi Sojiwan
Penampilan candi dari depan
Lorong menuju bagian dalam candi
Candi yang terdiri dari satu bangunan utama ini didampingi oleh stupa . Stupa ini berbeda dengan stupa di candi Borobudur yang berongga dan terdapat patung Budha didalamnya, stupa di candi Sojiwan tanpa patung Budha.
Yang menarik dari candi ini adalah terdapatnya relief berupa fabel yang terdapat di kaki candi. Ada dua belas panel relief fabel, yaitu relief Dua pria yang berkelahi, Angsa dan kura-kura, Perlombaan antara garuda dan kura-kura, Kera dan buaya, Tikus dan ular, Serigala dan wanita serong, Raja dan putri patih, Gajah dan kambing, Manusia singa, Serigala dan banteng, Kinnara, Singa dan banteng. Fabel- fabel ini dipetik dari cerita Pancatantra atau Jataka.
Relief kera dan buaya , pada relief tersebut terlihat seekor kera menaiki punggung seekor buaya.
Relief seekor kera menaiki punggung buaya
Candi yang cantik berada di lingkungan yang asri dan segar juga relief-reliefnya menarik menjadi daya tarik bagi candi ini. Melihat dan mengamati relief-relief fabel ini jadi teringat dongeng fabel yang biasa diceritakan orang tua menjelang tidur saat masa kanak-kanak.
Candi Sojiwan berada di desa Kebon dalem kidul, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Tepatnya, jika dari Yogyakarta pada pertigaan Prambanan di jalan Solo km 16 belok kanan kemudian ikuti jalan sampai melewati lintasan rel kereta. Nah, setelah toko keramik terdapat jalan beraspal ke kiri, ikuti jalan ini kemudian belok kanan di pertigaan berikutnya. Candi Sojiwan terletak tidak jauh dari pertigaan ini.
Posisi candi yang berdekatan dengan pemukiman penduduk serta dikelilingi di ladang jagung ini , tidak memungut tiket masuk alias gratis. Cukup menulis mengisi buku tamu yang disediakan petugas keamanan. Dan juga tidak ada pungutan yang harus dibayar untuk keperluan foto untuk prewedding.
Candi Sojiwan merupakan candi Budha. Sebuah stupa berdiri di halaman candi. Candi ini dibangun antara tahun 842 dan 850 masehi oleh Raja Balitung sebagai penghormatan kepada neneknya Nini Haji Rakryan Sanjiwana yang beraagama Budha.
Penampilan candi dari depan
Lorong menuju bagian dalam candi
Candi yang terdiri dari satu bangunan utama ini didampingi oleh stupa . Stupa ini berbeda dengan stupa di candi Borobudur yang berongga dan terdapat patung Budha didalamnya, stupa di candi Sojiwan tanpa patung Budha.
Yang menarik dari candi ini adalah terdapatnya relief berupa fabel yang terdapat di kaki candi. Ada dua belas panel relief fabel, yaitu relief Dua pria yang berkelahi, Angsa dan kura-kura, Perlombaan antara garuda dan kura-kura, Kera dan buaya, Tikus dan ular, Serigala dan wanita serong, Raja dan putri patih, Gajah dan kambing, Manusia singa, Serigala dan banteng, Kinnara, Singa dan banteng. Fabel- fabel ini dipetik dari cerita Pancatantra atau Jataka.
Relief kera dan buaya , pada relief tersebut terlihat seekor kera menaiki punggung seekor buaya.
Relief seekor kera menaiki punggung buaya
Candi yang cantik berada di lingkungan yang asri dan segar juga relief-reliefnya menarik menjadi daya tarik bagi candi ini. Melihat dan mengamati relief-relief fabel ini jadi teringat dongeng fabel yang biasa diceritakan orang tua menjelang tidur saat masa kanak-kanak.
Langganan:
Postingan (Atom)