Translate

Kamis, 24 Juli 2014

Saya dan wisma Rusa Baluran

Traveling sendirian, menginap di penginapan di tengah hutan. Tanpa listrik. Tanpa televisi. Membayangkan hanya mendengar hembusan angin yang menggesekan daun pohon . Keindahan purnama yang menyinari savana dengan sekawanan rusa yang melintas. Merdunya suara kicauan  burung. Hanya ada saya dan alam. Hmm, suasana yang berbeda dengan keseharian saya di Yogya.

Wisma Rusa di taman nasional Baluran , Situbondo, jawa timur menjawab keinginan saya. Wisma di tengah hutan. Jarak antara wisma dengan jalan raya 15 kilometer. Listrik yang bersumber dari genset menyala dari jam 5 sore sampai jam 23 malam, selebihnya gelap. Jika tamu ingin listrik menyala sampai pagi maka dikenai tambahan charge 100 ribu rupiah per malam. Tidak ada kantin atau restaurant disini. 

Baluran mempunyai beberapa wisma untuk tamu. Wisma Rusa merupakan penginapan berdinding kayu berlantai dua dengan beberapa kamar. Posisinya tepat di depan savana. Tidak jauh dari wisma Rusa,  ada wisma Merak dan Banteng yang mirip cottage. Sedangkan di pantai Bama, pantai ini masih satu kawasan dengan taman nasional Baluran, terdapat wisma Kapidada.

Pagi itu, di akhir mei 2014, saya sampai di Baluran. Tujuannya selain  mengexplore juga ingin menikmati sensasi menginap sendirian di tengah hutan.

Bekal  lengkap untuk menginap sudah saya persiapkan. Mulai dari air mineral, makanan, lampu senter , lotion anti nyamuk dan power bank.

Setelah check in, saya mengexplore savana yang meranggas . Mengamati binatang yang melintas,  menikmati gunung Baluran yang sebagian ditutupi kabut. Dan aktivitas memotret. Ngobrol dengan sesama wisatawan. Enjoy karena ini pengalaman pertama saya jalan-jalan di hutan.

Rasa kantuk karena perjalanan semalam dari Yogya membuat saya menghentikan petualangan seru ini. Saya bergegas ke penginapan untuk rebahan  tidur ayam sebentar. Saya berharap kembali segar untuk mengexplore .

Tidak ada sepuluh menit tertidur, saya dibangunkan suara ketukan di dinding kamar. " paling juga suara cicak", batin saya sambil kembali mencoba tidur . Akan tetapi suara cicak bertambah kencang. Karena cukup mengganggu, saya mencari sumber suara dan memukul dinding  beberapa kali dengan harapan sang cicak pergi.

"Bobo lagi, ah", ucap saya dalam hati karena tidak terdengar lagi suara cicak. Karena terasa gerah , maklum di kamar ini tanpa kipas , saya membuka jendela.

Beberapa menit  berhasil tidur. Tapi kembali dibangunkan dengan suara yang sama. Saya terbangun dan diam. Cicak itu rupanya mengajak saya 'bermain'.   Dengan perasaan jengkel dan setengah mengantuk, saya keluar dari kamar .

Saya kembali ke savana , kembali memotret. Tapi sebelumnya mampir dulu ke toilet. Dan apa yang saya khawatirkan , sejak pertama tiba dan  melihat wisma ini, menjadi kenyataan. Hawa dingin beku di tengkuk juga merinding terasa di area toilet. Pertanda ada ' mahkluk lain'  di wisma ini. Tapi , tsaaah ! ..itu kan hal biasa dimana-mana juga ada. " saya 'kan pemberani", saya menghibur diri sendiri.

Mata mengantuk tapi tidak bisa tidur, sungguh membuat jengkel. Akhirnya saya memutuskan duduk santai di depan savana, mengamati wisatawan yang asik memotret.

Sorang wisatawan asal Banyuwangi mengajak saya ke pantai Bama. "Hmmm, kebetulan", batin saya karena air mineral dan roti manis,yang sedianya untuk bekal dicopet seekor monyet. Di pantai Bama, saya akan membeli makanan juga air mineral. " Berani benar, sampeyan menginap sendirian di hutan " kata teman baru saya itu.

Jam di tangan saya menunjukkan jam 3 sore, saya bergegas sholat ashar. Hati saya ciut untuk mengambil air wudhu di pancuran di dekat mushola.Hal ini diperparah dengan kedatangan seekor monyet yang datang melintas dengan cepat sambil bersuara gaduh. Saya dibuat kaget dengan adegan monyet tersebut.

Menjelang maghrib, hari mulai gelap. lampu di wisma Rusa mulai dinyalakan. Petugas di wisma Rusa menyapa saya dan kembali menjelaskan tentang pasokan listrik yang hanya tersedia sampai jam 23.00 malam. Sambil memberitahukan ke saya, bahwa saya menginap sendirian malam ini. Sejak awal, saya tau bahwa saya akan sendiri di wisma ini tapi perasaan takut telah berhasil menyergap saya. "Waduh, bakal ada adegan apalagi di wisma Rusa. suara cicak, bulu kuduk yang menggigil atau ada adegan horor", pikir saya.

Akhirnya, saya menelpon ojek, yang tadi pagi mengantar saya untuk dijemput.Saya batal tidur di tengah hutan.

Segelas milo panas dan badan yang segar setelah mandi membuat tidur saya nyenyak. Akhirnya saya menginap di Forest Ranger home stay yang berjarak 200 meter dari Baluran. Esoknya , saya kembali ke Baluran, kembali mengexplore. Kembali menuntaskan beberapa lokasi di Baluran yang belum terexplore kemarin.

Di tengah padang savana Baluran, saya menatap wisma rusa dan memotretnya. Memang belum terbukti wisma Rusa itu berhantu karena saya belum ketemu hantu di wisma Rusa . Ketakutan saya telah memupuskan keinginan untuk menikmati romantisme menginap di hutan. Tsaaaahh !!! . Dan wisma ini pula yang membuat saya harus melepas label "pemberani", yang saya sematkan untuk diri saya.

Senin, 14 Juli 2014

Menuntaskan rindu dengan Merapi



Suatu pagi di akhir bulan april 2014, hulu kali Boyong sebelah selatan Merapi terlihat kesibukan. Truk hilir mudik masuk dan keluar sungai untuk mengangkut pasir.Beberapa warga terlihat menikmati aktivitas ini.

Merapi terlihat anteng dan gagah. Secuil awan bergelantung di langit dan menambah keindahan merapi pagi itu yang nampak biru. Dari hulu kali Boyong ini, nampak Merapi hanya selemparan batu jauhnya.

Sementara itu jembatan gantung terbentang diatas kali Boyong menambah indahnya suasana pagi itu.
Inilah keindahan dan bersahabatnya Merapi dengan warga.

Tahun 2014 tepat siklus empat tahunan letusan Merapi. Pada akhir  april 2014, BPPTKG mengeluarkan pengumuman status Merapi menjadi 
Waspada karena terdengar dentuman beberapa kali dari 
Merapi.

 Ingatan saya kembali ketahun 2010 saat terjadi erupsi. Merapi berubah menjadi galak. Awan panas meluluhlantakkan desa-desa di lereng Merapi dan ratusan nyawa melayang.

Perasaaan sedih juga ketakutan kembali mengaduk emosi disamping perasaan rindu akan keindahan Merapi di segenap penjurunya.

Untuk menuntaskan rindu, saya menghampiri Merapi searah jarum jam , searah 180 derajat dimulai dari selatan Merapi, yaitu hulu kali Boyong, seperti yang saya ceritakan diawal tulisan. Kemudian mampir ke pos pengamatan Merapi di Kaliurang. Dari Kaliurang, saya bergeser ke arah barat di pos Babadan di Magelang. Lanjut ke barat laut, tepatnya di desa Wonolelo, Sawangan, Magelang. dan terakhir disisi utara Merapi, di Selo, Boyolali.

Pos Merapi di Kaliurang, inilah pos yang berada di sisi selatan gunung. Pos ini berjarak tujuh kilometer dari puncak Merapi.Menara pandang terlihat di depan kantor. Alat seismograf atau alat pantau kegempaan juga tedapat di pos ini. Terdapat layar monitor yang terhubung dengan CCTV yang dipasang di lereng Merapi. Saat Merapi berlebihan aktivitas akan terlihat penggelembungan di tubuh Merapi. Nah, kondisi ini terpantau di CCTV.Ternyata Merapi juga bisa gendut ya..


Dari Kaliurang, saya bergeser ke arah barat Merapi, tepatnya arah menuju Ketep Pass. Sebelum sampai di Ketep Pass belok kanan melewati jembatan Tlatar kemudian mendaki menuju desa Babadan.
Hal sama juga terlihat di pos Babadan. berbagai peralatan pemantauan terpasang di pos ini. Dan bekerja selama 24 jam. Di pos ini terdapat bunker, tempat menyelamatkan diri dari awan panas. Pos ini berjarak 4,4 kliometer dari puncak Merapi. Pada erupsi tahun 2010, pos ini ditinggalkan dengan alasan keselamatan. Merapi terlihat cantik disini. Asap solfatara tipis keluar dari kawah. Hutan pinus mengitari gunung ini.


 

Selanjutnya, saya meninggalkan pos Babadan menuju desa Wonolelo, Sawangan, Magelang. Posisi desa ini setelah Ketep Pass ke arah Selo, kurang lebih berjarak 5 kilometer dari tempat wisata Ketep Pass. Desa ini berada di sisi barat laut Merapi. Merapi nampak dikitari hamparan kebun sayur plus pemukiman penduduk yang terkonsentrasi di satu titik. Udara yang bersih dan segar di area ini. Sungai Pabelan yang berhulu di gunung Merbabu membelah desa ini, mengalirkan air bersih dan menjelma menjadi air terjun Kedung Kayang yang cantik. Dan Merapi menjadi latarnya.


Saatnya menuju Selo, Boyolali. Desa ini berada di sisi utara Merapi. Jalan aspal yang tidak lebar dengan medan menanjak sungguh seru untuk dijajaki. Kebun sayur beserta kesibukan petani yang menggarap kebun juga riuhnya canda mereka diatas mobil bak terbuka sungguh pemandangan yang menyenangkan.

Tak kalah indahnya Merapi dan Merbabu yang menjadi latar area ini. Dan udara yang segar, pas banget buat menyegarkan rongga dada kita. Jalur ini dinamakan jalur SOSEBO atau jalur Solo- Selo - Borobudur. Jalur alternatif cantik jika kita akan menuju Borobudur dari Solo. Merapi terlihat gagah, jalur kawah berpasir dan terlihat bak parit raksasa. Mata ini tak henti-hentinya menjelajah keindahan Merapi.



Sementara puluhan anak muda sedang menikmati keindahan Merapi di jembatan gantung. Mereka saling memotret dan bercengkrama.Inilah tempat hang out mereka. Tempat yang cantik. Sepertinya mereka telah lupa akan bencana erupsi Merapi empat tahun silam. Tidak nampak ada ketakutan lagi.





Sekarang saya sudah sampai di desa Selo, Boyolali. Desa ini berada di sisi utara Merapi dan hanya berjarak 4 kilometer dari puncak Merapi. Beberapa pendaki mengawali pendakian ke gunung Merapi melalui desa ini. Selo berada di antara Merbabu dan Merapi. Hamparan alamnya mirip pelana kuda. Selo berada di titik terbawah diapit kedua gunung tersebut. Merapi dari Selo nampak sangat jelas akan tetapi hanya terlihat bagian puncaknya saja karena dibawahnya terdapat gunung Bibi. Keberadaan gunung Bibi menguntungkan masyarakat Selo karena muntahan awan panas akan tertahan oleh gunung Bibi.




Merapi menyajikan keindahan di segenap penjurunya. Namun seperti karakter alam. Merapi bak mata uang logam mempunyai dua sisi yang berbeda. Sisi cantik dan keberkahan bagi masyarakat sekitar namun juga mempunyai sisi yang menakutkan.